<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hutan Lindung Sungai Wain &#187; Kabar</title>
	<atom:link href="http://sungaiwain.org/topik/kabar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sungaiwain.org</link>
	<description>hutan tropis di Kota Balikpapan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Jun 2010 04:59:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Izin Pertambangan Ancam Orangutan</title>
		<link>http://sungaiwain.org/izin-pertambangan-ancam-orangutan.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/izin-pertambangan-ancam-orangutan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 04:59:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN, KOMPAS.com &#8211; Sekitar 13 perusahaan pertambangan batu bara belakangan ini mengapling sekitar 1.300 hektar lahan di kawasan hutan koridor milik hak pengusahaan hutan Inhutani I yang berbatasan dengan Hutan Lindung Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Belasan perusahaan tambang itu bisa menguasai daerah tersebut karena memiliki izin kuasa pertambangan (KP) dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN, KOMPAS.com &#8211; Sekitar 13 perusahaan pertambangan batu bara belakangan ini mengapling sekitar 1.300 hektar lahan di kawasan hutan koridor milik hak pengusahaan hutan Inhutani I yang berbatasan dengan Hutan Lindung Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur.</p>
<p>Belasan perusahaan tambang itu bisa menguasai daerah tersebut karena memiliki izin kuasa pertambangan (KP) dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara.</p>
<p>Pengaplingan tersebut dinilai perlu mendapat perhatian pihak- pihak berwenang mengingat Hutan Lindung (HL) Sungai Wain adalah habitat orangutan dan beruang madu terbaik yang dimiliki Balikpapan. Koridor yang dikapling termasuk kawasan jelajah satwa-satwa langka itu, khususnya saat mereka mencari makanan.</p>
<p>Demikian penekanan Direktur Badan Pengelola HL Sungai Wain Purwanto di Balikpapan, Rabu (9/6). ”Jika kawasan koridor itu ditambang, daerah jelajah satwa-satwa yang ada di HL Sungai Wain semakin sempit. Sungai Wain sendiri luasnya kurang dari 10.000 hektar,” katanya mengingatkan.</p>
<p>Menurut Purwanto, pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait pengaplingan hutan di koridor HL Sungai Wain itu. Sebab, kawasan tersebut bukan berada di wilayah Balikpapan, melainkan di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara. ”Kami mengusulkan agar kawasan koridor itu masuk daerah tambahan Hutan Lindung Sungai Wain,” katanya.</p>
<p>Wilayah yang diusulkan masuk HL Sungai Wain, menurut Purwanto, sekitar 6.000 hektar. Usulan sudah diajukan kepada Gubernur Kalimantan Timur dan Wali Kota Balikpapan. ”Sekitar 4.000 hektar lahan yang diusulkan masuk HL Sungai Wain saat ini berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, sedangkan 2.000 hektar lagi masuk wilayah Balikpapan,” katanya.</p>
<p>Selain masalah batu bara, pada koridor yang menjadi lokasi pembangunan jembatan Pulau Balang—jembatan yang akan menghubungkan Balikpapan dengan Penajam Paser Utara—itu warga kini juga banyak melakukan pengaplingan. Hal itu tecermin dari papan-papan nama pemiliknya sepanjang lebih kurang 15 kilometer. (FUL/BRO)</p>
<p>Tanggal: Kamis, 10 Juni 2010 | 09:48 WIB<br />
Link: <a title="Izin Pertambangan Ancam Orangutan" href="http://sains.kompas.com/read/2010/06/10/09481660/Izin.Pertambangan.Ancam.Orangutan" target="_blank">http://sains.kompas.com/read/2010/06/10/09481660/Izin.Pertambangan.Ancam.Orangutan</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/izin-pertambangan-ancam-orangutan.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/izin-pertambangan-ancam-orangutan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Garap KRB, Pemkot Dinilai Kurang Serius</title>
		<link>http://sungaiwain.org/garap-krb-pemkot-dinilai-kurang-serius.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/garap-krb-pemkot-dinilai-kurang-serius.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 10:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[fasilitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN&#8211;Anggota Komisi I DPRD Balikpapan Ida Prahastuty, S.Sos meminta Kebun Raya Balikpapan di areal Hutan Lindung Sungai Wain (KRB-SW) ditata sedemikian rupa sehingga bisa menjadi sebuah ikon kota Balikpapan, sebab selama ini terkesan Pemkot kurang serius untuk membangun KRB-SW tersebut. “KRB ini sangat layak dikembangkan untuk menjadi pusat penelitian botanic,” ujar Ida kepada Post Metro [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN&#8211;Anggota Komisi I DPRD Balikpapan Ida Prahastuty, S.Sos meminta Kebun Raya Balikpapan di areal Hutan Lindung Sungai Wain (KRB-SW) ditata sedemikian rupa sehingga bisa menjadi sebuah ikon kota Balikpapan, sebab selama ini terkesan Pemkot kurang serius untuk membangun KRB-SW tersebut. “KRB ini sangat layak dikembangkan untuk menjadi pusat penelitian botanic,” ujar Ida kepada Post Metro saat dihubungi pada Kamis (6/5) tadi malam.</p>
<p>Keberadaan Kebun Raya di perkotaan itu, lanjut Ida selain sebagai ruang terbuka hijau dapat memperindah lingkungan, juga dapat dijadikan sarana hiburan masyarakat. Manfaat lain yang paling menonjol adalah sebagai penghasil devisa bagi Pemkot Balikpapan. Ida bersama rombongan komisi I dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Balikpapan pada Kamis (6/5) melakukan kunjungan ke kawasan KRB-SW.</p>
<p>Dia mengaku terkejut dengan kondisi KRB yang masih jauh dari penyelesaian pembangunannya. Padahal bila KRB-SW bisa dikelola secara profesional, lanjut Ida, sangat dimungkinkan dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat setempat. Menurutnya, air tersedia karena adanya RTH (Ruang Terbuka Hijau) seperti hutan lindung dan daerah resapan air (situ, embung).</p>
<p>Semakin banyak infrastruktur sumber daya air (SDA) di suatu wilayah seperti di KRB sangat bermanfaat sebagai penampung air saat terjadi hujan lebat. Dampaknya selain pencegah banjir juga airnya dapat dimanfaatkan saat musim kemarau panjang tiba. Seperti diketahui bahwa ruang terbuka hijau di Balikpapan sudah sesuai dengan UU Tata Ruang yakni 30 persen dari total luas wilayah.</p>
<p>Bahkan kedepan luasnya dapat dikembangkan hingga mencapai 48 persen. Kawasaan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) berdasarkan Kepmen Kehutanan Nomor 46/1996 luasnya 9.872 hektare. Keberadaan KRB-SW sangat mendukung kegiatan PT Pertamina Balikpapan. Disamping itu, sejak tahun 1947 air baku yang ada di Sungai Wain dimanfaatkan bagi pengolahan minyak dan permukiman komplek PT. Pertamina.</p>
<p>“Di sinilah perlunya keseriusan Pemkot Balikpapan untuk membangun KRB-SW,” ujar Ida. Kawasan KRB-SW sudah disiapkan 394 hektare lebih, sedangkan yang baru diolah 146 hektare sehingga masih banyak lahan yang perlu diolah untuk bisa dijadikan kawasan hijau untuk menyangga kota Balikpapan.</p>
<p>Lebih lanjut ia memaparkan, kalau untuk program lain, Pemkot bisa mengeluarkan anggaran sampai puluhan miliar rupiah, lalu kenapa untuk kegiatan pembangunan KRB-SW dananya kecil tidak sebanding dengan manfaat yang didapat dengan keberadaan KRB tersebut. Karena itulah Ida mengusulkan supaya dana untuk pembagunan KRB ini disiapkan lebih besar lagi sesuai dengan kebutuhan untuk pembangunan KRB tersebut.</p>
<p>Karena KRB ini sangat bermanfaat untuk menyelamatkan eko sistem kehidupan di kota Balikpapan maupun Kalimantan. Begitu juga dengan pihak swasta, Ida pun mengharapkan dukungan dari pengusaha dan perusahaan di Kota Balikpapan khususnya PT Pertamina dan pengusaha Kaltim umumnya sehingga Kebun Raya Balikpapan Sungai Wain dapat segera terwujud.</p>
<p>Apalagi Pertamina yang merasakan langsung manfaat KRB-SW tersebut karena mengambil sumber air untuk aktivitas operasional kilang mereka, maka sudah selayaknya untuk membantu pembangunan KRB-SW ini.(are)</p>
<p>Tanggal: Jum&#8217;at, 07 Mei 2010 , 12:56:00<br />
Link: <a title="Garap KRB, Pemkot Dinilai Kurang Serius" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=35296&amp;usg=AFQjCNEn8of2w0wSMRC-sFwF73c1NaQj3w" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=35296&amp;usg=AFQjCNEn8of2w0wSMRC-sFwF73c1NaQj3w</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/garap-krb-pemkot-dinilai-kurang-serius.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/garap-krb-pemkot-dinilai-kurang-serius.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beruang Madu Terancam Punah</title>
		<link>http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 05:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>
		<category><![CDATA[species]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN, TRIBUNKALTIM.co.id-  Peneliti asal Ceko, Stanislav Lhota, M.sc, Ph.D  memberi kabar mengejutkan bagi kota Balikpapan. Selama beberapa tahun penelitiannya di Hutan Lindung Sungai Wain dan Pesisir Teluk Balikpapan, dirinya memberi sinyal mengkhawatirkan bagi spesies yang terancam punah. Salah satunya adalah maskot kota Balikpapan adalah hewan Beruang Madu.
Dari data yang menjadi pegangan Stanis adalah IUCN Red [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN, TRIBUNKALTIM.co.id-  Peneliti asal Ceko, Stanislav Lhota, M.sc, Ph.D  memberi kabar mengejutkan bagi kota Balikpapan. Selama beberapa tahun penelitiannya di Hutan Lindung Sungai Wain dan Pesisir Teluk Balikpapan, dirinya memberi sinyal mengkhawatirkan bagi spesies yang terancam punah. Salah satunya adalah maskot kota Balikpapan adalah hewan Beruang Madu.</p>
<p>Dari data yang menjadi pegangan Stanis adalah IUCN Red List mencatat sebanyak 8 jenis mamalia yang ditemukan di Balikpapan terancam punah (Endangered) secara global, seperti Bekantan (<em>Nasalis larvatus</em>), Uwa-uwa Kalimantan (<em>Hylobates muelleri</em>), Orangutan Kalimantan (<em>Pongo pygmaeus</em>), Trenggiling (<em>Manis javanica</em>), Musang Air Bennet (<em>Cynogale bennettii</em>), Berang-berang Sumatera (<em>Lutra sumatrana</em>), Kucing Tandang (<em>Prionailurus planiceps</em>) dan Kucing Merah (<em>Pardofelis badia</em>). Selain itu, terdapat  17 spesies yang termasuk kategori rentan (Vulnerable). Seperti Beruang Madu (<em>Helarctos malayanus</em>), yang merupakan satwa maskot Balikpapan, dan juga Binturong (<em>Artictis binturong</em>), Macan Dahan (<em>Neofelis diardii</em>), Kucing Batu (<em>Pardofelis marmorata</em>), Pesut (<em>Orcaela brevirostris</em>) dan Duyung (<em>Dugong dugon</em>).</p>
<p>Stanis menganggap keanekaragaman mamalia dan binatang lain di Balikpapan berada di bawah ancaman yang serius. Salah satu ancaman ini adalah fragmentasi ekosistem. Setiap tahun hutan yang tersisa masih saja di jarah dan diisolasikan dari fragment-fragment hutan lain sehingga menyebabkan binatang tidak bisa bergerak di antara fragment-fragment itu yang dapat menambah risiko kepunahan lokal“ ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi tribunkaltim.co.id, Jumat (9/4).</p>
<p>Stanis menyebutkan satu spesies mamalia yang telah punah di Balikpapan adalah banteng (<em>Bos javanicus</em>) dan tidak menutup kemungkinan spesies yang lainnya bisa ikut punah. Tetapi pria asal Ceko ini masih bersyukur setelah melihat dua ekosistem utama yaitu hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir Teluk Balikpapan belum diisolasikan.</p>
<p>Masih ada biokoridor (jalan hijau) seluas 5.656 hektar di antara hutan lindung dan pesisir, melalui DAS (Daerah Aliran Sungai) Selok Puda, Sungai Tengah, Berenga, Tempadung, Baruangin dan Kemantis. „Tetapi koridor ini perlu dilindungi jika semua itu ingin diselamatkan dari ancaman kepunahan,“ tegasnya.</p>
<p>Stanis menilai anncaman utama untuk biokoridor (jalur hijau) ini adalah perencanaan membuat jalan penghubungan ke Jembatan Pulau Balang yang melewati perbatasan barat Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan. Jalan ini akan memotong semua koridor yang masih tersisa dan akan membuka akses untuk bermacam-macam aktivitas yang nantinya akan merusak hutan dan pesisir, termasuk illegal logging, kebakaran hutan dan pemburuan. „Ini akan sangat membahayakan reputasi Kalimantan Timur sebagai provinsi hijau (Green Province). Tetapi bencana ini bisa dihindari dengan cara pembuatan jembatan alternatif dari Tanjung Batu ke Gunung Seteleng, agar jalan penghubungnya tidak perlu dibangun melalui sepanjang perbatasan Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan,” katanya.</p>
<p>Dengan alternatif itu, keanekaragaman satwa kota Balikpapan yang di kenal unik di seluruh dunia menjadi bisa diselamatkan. Balikpapan menurutnya adalah kota yang sangat unik di dunia karena kekayaan jenis satwa dan tanamam liar yang masih terdapat di dalam wilayah administratifnya. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah spesies mamalia yang telah ditemukan oleh beberapa peneliti dari Indonesia dan dari negara luar. Sampai saat ini, sebanyak 94 spesies mamalia sudah terdaftar di Balikpapan. Tetapi sangat mungkin jumlah ini akan bertambah menjadi lebih dari 100 spesies setelah dilakukan penelitian lengkap tentang mamalia kecil seperti tikus, curut atau kelelawar. Namun, jumlah spesies mamalia kecil masih belum dapat di pastikan.</p>
<p>Terdapat 29 spesies mamalia yang ditemukan di Balikpapan dan dilindungi di Indonesia sesuai dengan PP No. 7 tahun 1999. Sebanyak 83 spesies dari 94 spesies mamalia yang diketahui di Balikpapan, kebanyakan ditemukan di Hutan Lindung Sungai Wain. “Namun sampai saat ini ada juga 11 spesies yang hanya dapat dilihat di luar area yang dilindungi seperti empat spesies mamalia laut yakni duyung, pesut, lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba tanpa sirip pungung,” ujarnya. (*)</p>
<p>Tanggal: Jumat, 9 April 2010 | 10:45 WITA<br />
URL: <a title="Beruang Madu Terancam Punah" href="http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/54059" target="_blank">http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/54059</a><br />
* Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Ahmad Bayasut</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disporabudpar Optimistis Capai Target</title>
		<link>http://sungaiwain.org/disporabudpar-optimistis-capai-target.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/disporabudpar-optimistis-capai-target.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 01:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[fasilitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[PAD Sementara Rp 131 Juta, Upayakan Pembenahan Sarana
BALIKPAPAN   -   Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Pemkot Balikpapan optimistis jika tahun 2010 ini mampu mencapat target terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Terutama terhadap pemanfaatan objek wisata Pantai Segara Sari Manggar, Balikpapan Timur.
Kepala Disporabudpar Pemkot Balikpapan, Dra Doortje Marpaung MM, mengatakan, bahwa sejak awal bulan Januari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>PAD Sementara Rp 131 Juta, Upayakan Pembenahan Sarana</em></p>
<p>BALIKPAPAN   -   Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Pemkot Balikpapan optimistis jika tahun 2010 ini mampu mencapat target terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Terutama terhadap pemanfaatan objek wisata Pantai Segara Sari Manggar, Balikpapan Timur.</p>
<p>Kepala Disporabudpar Pemkot Balikpapan, Dra Doortje Marpaung MM, mengatakan, bahwa sejak awal bulan Januari hingga pertengahan Maret 2010 ini tercatat PAD yang dihasilkan Pantai Segara Sari Manggar mencapai Rp 131 Juta. Angka jauh ini melampaui dari target per triwulan sebelumnya yang berkisar Rp 75 juta saja, dengan target per tahun Rp 285 juta.</p>
<p>“Kita sangat optimis bisa mencapai target PAD, terutama khusus objek wisata Pantai Manggar. Bersyukur, sejak awal Januari hingga 14 Maret saja PAD yang kita dapatkan sudah Rp 131 juta saja,” ujar Doortje-akrabnya disapa.</p>
<p>Maklum, ada beberapa kegiatan yang membuat kunjungan meningkat. Mulai liburan tahun baru hingga festival layang-layang yang berlangsung beberapa waktu lalu. Tak heran, pendapatan asli daerah dari sektor pariwista ini juga meningkat drastis.</p>
<p>“ Pengaruhnya besar sekali, semakin banyak pengunjung yang dating ke Pantai Manggar maka semakin besar pula PAD yang dapat dihimpun,” kata Doortje.</p>
<p>Kawasan wisata pantai yang terletak di sebelah timur Balikpapan itu selalu ramai pengunjung.</p>
<p>Doortje mengatakan, Angka tersebut cukup menggembirakan. Pasalnya, khusus Pantai Manggar Disporabudpar menargetkan pendapatan yang diraih hingga akhir tahun 2010 melebihi angka yang ditargetkan  Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) selama satu tahun ditarget Rp 285 juta. Namun, dala, tiga bulan saja, sudah bisa terkumpul Rp 131 juta.  “Bahkan, pada tahun 2011 mendatang, PAD yang ditargetkan Dispenda ke kita dalam mengelola Pantai Manggar lebih Rp 320 juta. Mudah-mudahan bias tercapai,” ungkap wanita yang sebelumnya menjabat Kabag Humas Pemkot ini.</p>
<p>Untuk meningkatkan PAD Pantai Segara Sari Manggar , tentunya Disporabudpar akan melakukan pembenahan sarana dan prasarana. Seperti pemasangan pagar untuk mengantisipasi kebocoran pengunjung hingga pembuatan jalan baru menuju pantai yang segera dilaksanakan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Balikpapan.</p>
<p>Tak hanya itu saja, rencananya Disporabudpar juga akan melakukan koordinasi dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (BP HLSW) untuk melengkapi sarana, berupa jembatan, pusat informasi dan sarana penunjang lainnya. “Kegiatan di Pantai Manggar juga akan kita tingaktkan, kalau tidak tiap minggu mungkin setiap bulan ada hiburan. Mungkin saja hiburan musik dan tarian, olahraga voli pantai dan lainnya yang bisa mendorong peningkatan kunjungan,” pungkas Doortje. (die)</p>
<p>Tanggal: Sabtu, 27 Maret 2010 , 11:04:00<br />
URL: <a title="Disporabudpar Optimis Capai Target" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=33247" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=33247</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/disporabudpar-optimistis-capai-target.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/disporabudpar-optimistis-capai-target.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BPHLSW Budidayakan Jamur Tiram</title>
		<link>http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 01:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[sosial-ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[BUDIDAYA jamur tiram mulai marak dilakukan masyarakat di Kota Balikpapan. Prospeknya yang baik dan juga mudah diserap pasar, membuat warga tertarik dengan usaha ini. Budidaya jamur tiram pun juga dilakukan Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain dan Das Manggar, yang masih dalam tahap ujicoba.
Budidaya dilakukan bukan untuk tujuan bisnis, namun nantinya ditularkan kepada masyarakat sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BUDIDAYA jamur tiram mulai marak dilakukan masyarakat di Kota Balikpapan. Prospeknya yang baik dan juga mudah diserap pasar, membuat warga tertarik dengan usaha ini. Budidaya jamur tiram pun juga dilakukan Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain dan Das Manggar, yang masih dalam tahap ujicoba.</p>
<p>Budidaya dilakukan bukan untuk tujuan bisnis, namun nantinya ditularkan kepada masyarakat sekitar hutan, agar mampu melakukan budidaya dengan baik, dan tak tergantung pada hutan khususnya kayu. “Baru lima bulan kami membudidayakan jamur ini, setelah berhasil maka selanjutnya masyarakat sekitar yang akan membudidayakannya.</p>
<p>Nilai ekonomi dari budidaya jamur ini sangat menjanjikan,” ujar Direktur BPHLS dan Das Manggar Purwanto SHut didampingi Koordinator Litbang Rusdianto kepada Post Metro belum lama ini. Dikatakan, untuk wadah pengembangbiakan jamur adalah dari kantong plastik yang disisi dedak, kayu dan kapur.</p>
<p>Setelah itu diproses dan ditaburi spora jamur yang bibitnya diambil dari Balikpapan. “Kami tekankan, pembudidayaan jamur ini agar masyarakat tidak lagi tergantung pada Hutan Lindung Sungai Wain. Sehingga kondisi hutan pun dapat terus lestari,” terang Purwanto.(mm-2)</p>
<p>Tanggal: Minggu, 14 Februari 2010 , 10:11:00<br />
URL: <a title="BPHLSW Budidayakan Jamur Tiram" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=30851" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=30851</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ironis, Kawasan HLSW Tersisa 63 Persen, Akibat Penjarahan Warga dan Pihak Tertentu</title>
		<link>http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN &#8211; Perkembangan di kawasan hutan lindung sungai wain (HLSW), hingga kini masih kondisinya belum dapat dikatakan baik. Penjarahan dalam skala kecil, masih dilakukan terhadap HLSW. Luas area HLSW yang mencapai 10 ribu hektarre, perlahan tapi pasti terus berkurang, karena adanya penjarahan hutan yang dilakukan warga dan pihak-pihak tertentu.
Ini yang mengakibatkan kondisi HLSW yang masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BALIKPAPAN</strong> &#8211; Perkembangan di kawasan hutan lindung sungai wain (HLSW), hingga kini masih kondisinya belum dapat dikatakan baik. Penjarahan dalam skala kecil, masih dilakukan terhadap HLSW. Luas area HLSW yang mencapai 10 ribu hektarre, perlahan tapi pasti terus berkurang, karena adanya penjarahan hutan yang dilakukan warga dan pihak-pihak tertentu.</p>
<p>Ini yang mengakibatkan kondisi HLSW yang masih bisa dikatakan sebagai hutan tersisa sekira 9 ribu hektare saja. “Kondisi hutan yang masih baik, tinggal 63 persen. Ini karena ada masyarakat yang terus-menerus mencari kayu, walau persentasenya kecil,” kata Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Kalimantan Drs Widodo W Sambodo MS.</p>
<p>Kawat yang mengelilingi HLSW sebagai pembatas, agar kondisi HLSW dapat terus dilestarikan, tidak dapat menghentikan aktivitas penjarahan yang dilakukan warga sekitar. Kurangnya pemahaman warga sekitar akan pentingnya melestarikan HLSW serta masih diandalkannya kayu sebagai bahan pokok untuk melakukan aktivitas masak-memasak yang dilakukan warga sekitar HLSW, jadi penyebab terjarahnya sebagian wilayah HLSW.</p>
<p>“Warga masih pakai kayu untuk masak, kawat pembatasnya sampai dibobol sama warga,” ungkapnya. Upaya yang dilakukan untuk tetap menjaga kelestarian HLSW adalah dengan melakukan pendekatan ke warga sekitar, serta memberikan pemahaman agar warga mengerti akan pentingnya keberadaan HLSW.</p>
<p>Selain itu, perbaikan terhadap kawat pembatas HLSW perlu untuk segera dilakukan agar tidak ada lagi warga yang masuk untuk menjarah HLSW. “Warga perlu diberikan pemahaman agar tidak lagi melakukan penjarahan. Jika warga sudah paham, sebaiknya kawat pembatasnya dipasang lagi, supaya warga tidak masuk lagi.</p>
<p>Kalau masih dibiarkan terbuka, sama aja member kesempatan warga untuk menjarah lagi,” terang dia. Jika sosialisasi terhadap warga telah dilakukan, tahap selanjutnya adalah memperketat pengawasan terhadap HLSW, agar penjarahan tidak lagi terulang.</p>
<p>Setelah memastikan tidak ada lagi yang melakukan penjarahan, sangatlah perlu untuk memperbaiki sebagian area HLSW yang rusak akibat penjarahan yang dilakukan warga sekitar. “Lahan yang rusak, harus ditanami kembali, untuk mengembalikan kelestarian HLSW,” pungkas Widodo.</p>
<p><strong>PERNAH TERBAKAR<br />
</strong><br />
Sebelumnya, seperti pernah dilansir Metro, saat musim kemarau akhir September 2009 lalu, kebakaran sempat melanda kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Lindung Sungai Manggar (HLSM) Balikpapan. Sedikitnya sekira 15 hektar lahan di kawasan tersebut, dilahap api.</p>
<p>Tingkat bahaya kebakaran hutan dan Lahan khususnya disekitar HLSW dan HLSM saat ini sudah pada tingkat Indeks Bahaya Kebakaran Tinggi dan tim Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan BPHLSW telah menetapkan status siaga II Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan.</p>
<p>Menurut Direktur Badan Pangelola HLSW dan Das Manggar, Purwanto Sejak bulan Juli hingga Bulan September 2009, jumlah titik api yang sudah di tangani BPHLSW sebanyak 12 titik api dengan luas rata-rata 2 Ha, dan terakhir kebakaran hutan dan lahan di KM.18 mencapai 15 Ha Lebih.</p>
<p>“Hal ini disebabkan oleh kegiatan masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar kemudian ditinggal, masyarakat yang membakar sampah dan kegiatan– kegiatan lain yang membuka peluang kebakaran hutan seperti membuang putung rokok sembarangaa. Tetapi sampai saat ini kondisi HLSW masih aman dari bahaya kebakaran,” terang Purwanto.(mm-1)<br />
Tanggal: Kamis, 14 Januari 2010 , 08:19:00<br />
Link: <a title="Ironis, Kawasan HLSW Tersisa 63 Persen, Akibat Penjarahan Warga dan Pihak Tertentu" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=29073" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=29073</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>40 Petugas Pemadam Awasi 14.000 Ha Lahan</title>
		<link>http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 06:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN &#8211; Kantor Penanggulangan Kebakaran senilai Rp 980 juta di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Lindung DAS Manggar diresmikan Wakil Walikota Balikpapan Rizal Effendi, Selasa (29/12). Peresmian kantor yang terletak di kawasan Agrowisata Km 23, Karang Joang ini ditandai pembukaan selubung papan nama oleh Rizal.
Kepala Divisi Perlindungan Hutan dan Konservasi Kawasan Unit Pengelola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN &#8211; Kantor Penanggulangan Kebakaran senilai Rp 980 juta di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Lindung DAS Manggar diresmikan Wakil Walikota Balikpapan Rizal Effendi, Selasa (29/12). Peresmian kantor yang terletak di kawasan Agrowisata Km 23, Karang Joang ini ditandai pembukaan selubung papan nama oleh Rizal.</p>
<p>Kepala Divisi Perlindungan Hutan dan Konservasi Kawasan Unit Pengelola HLSW Agusdin  mengatakan, bangunan yang didanai Pemprov Kaltim ini akan menjadi pusat kendali penanggulangan kebakaran yang mengawasi lahan seluas 14.781 hektare (ha), meliputi 9.782 ha HLSW dan 4.999 ha HL DAS Manggar. &#8220;Gedung ini sekaligus menggantikan posko pengendali yang sebelumnya berada di Km 15,&#8221; ujar Agus.</p>
<p>Saat ini, sudah ada 20 personel petugas pemadam dan 20 anggota regu binaan swakarsa masyarakat sekitar, artinya 40 personel mengawasi sekitar 14.000 hektare lebih lahan hutan lindung. Selain itu, masih ada sembilan personel Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polri dan TNI yang siap membantu. &#8220;Dalam keadaan darurat, kita akan mendapat bantuan dari regu pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran serta bantuan regu pemadam perusahaan-perusahaan swasta,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Kantor Penanggulangan Kebakaran HLSW dan HL DAS didukung empat unit mobil pick up, 1 unit mobil pemadam kapasitas tangki 5.000 liter, tandon portable, pompa punggung, cangkul, sekop, hingga chainsaw.</p>
<p>Kepala UP HLSW Purwanto mengatakan, penjagaan dan pengawasan kawasan hutan lindung tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga masyarakat sekitar kawasan. &#8220;Kunci utama adalah komunikasi dan kerja sama antara masyarakat dan petugas dalam menghadapi kebakaran hutan,&#8221; ujar Purwanto.</p>
<p>Dalam acara ini juga ditampilkan demonstrasi pemadaman api oleh tim pemadam Unit Pelaksana BPHLSW disaksikan para tamu undangan yang hadir. Usai atraksi, Wawali, Dandim, dan Kapolres turut mencoba pompa semprot berkapasitas 18 liter air. (m25)</p>
<p>Link: <a title="40 Petugas Pemadam Awasi 14.000 Ha Lahan" href="http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/44801" target="_blank">http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/44801</a><br />
Sumber: Tribun Kaltim<br />
Tanggal: Selasa, 29 Desember 2009 | 22:11 WITA</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Posko Kabakaran Hutan Diresmikan, Antisipasi Kebakaran HLSW dan DAS Manggar</title>
		<link>http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 06:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN&#8211;Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (BP HLSW) dan DAS Manggar, akhirnya merampungkan gedung yang dijadikan posko penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Posko yang berada di kawasan Agrowisata Jl Soekarno-Hatta Km 23, diresmikan langsung Wakil Wali Kota HM Rizal Effendi SE, Selasa (29/12) pagi.
Turut menyaksikan peresmian gedung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tersebut, Kapolresta Balikpapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN&#8211;Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (BP HLSW) dan DAS Manggar, akhirnya merampungkan gedung yang dijadikan posko penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Posko yang berada di kawasan Agrowisata Jl Soekarno-Hatta Km 23, diresmikan langsung Wakil Wali Kota HM Rizal Effendi SE, Selasa (29/12) pagi.</p>
<p>Turut menyaksikan peresmian gedung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tersebut, Kapolresta Balikpapan AKBP A Rafik, Dandim 0905 Balikpapan Letkol Inf Rifky, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkot Drs H Syahrumsyah Setya MSi, Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DTKP) H Chaidar Chairulsyah, Direktur BP HLSW dan DAS Manggar Purwanto dan beberapa tamu undangan lainnya.</p>
<p>Peresmian ditandai dengan pembukaan kain yang menyelubungi papan nama gedung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan HSLW maupun DAS Manggar, oleh Wawali Rizal Effendi. Usai peresmian, juga dilakukan simulasi pemadaman kebakaran oleh pejabat muspida mapun petugas, yang lokasi tepat berada di depan gedung.</p>
<p>“Di posko ini ada lima unit kendaraan penanggulangan bencana kebakaran, empat diantaranya berupa kendaraan pikap. Sedangkan satunya lagi berupa mobil pemadam kapasitas 5.000 liter air,” ujar Direktur BP HLSW dan DAS Manggar, Purwanto. Sementara itu, Wawali Rizal menuturkan bahwa di Balikpapan setiap tahunnya selalu menghadapi bencana kebakaran yang datang secara rutin rutin .</p>
<p>Diantaranya bencana angin puting beliung, banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan, lahan dan rumah. Ketika semua bencana itu sudah ada dan sudah terdeteksi, maka seharusnya masyarakat dan petugas sudah bisa mengatasi dan mengendalikannya dengan membuat suatu sistem penanggulangan yang terpadu seperti yang diresmikan saat ini. “Sistem penanggulangan kebakaran hutan harus lebih terencana dengan baik.</p>
<p>Dan saya menyambut baik terhadap upaya yang dilakukan oleh BP HLSW dan DAS Manggar yang telah menerencanakan sejak lama melalui pembangunan pusat penangulangan kebakaran hutan dan lahan ini,” ungkap Rizal. Namun, kata wawali, terkadang masyarakat lalai dan belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan bencana.</p>
<p>Apabila bencana tersebut dapat kita kendalikan dan waspadai, maka segala bentuk kerugian dan bahaya juga dapat ditanggulangi. Penanggulangan bencana alam saat ini tidak hanya terjadi di Kota Balikpapan, hampir seluruh dunia juga merasakan akibat dari perubahan iklim atau climate change.</p>
<p>Salah satu penyumbang pemanasan global adalah meningkatnya jumlah kadar karbon gas rumah kaca, terutama yang berasal dari pembukaan hutan dan membakar lahan serta kebakaran hutan sendiri. “Oleh sebab itu, penanganan asap akibat kebakaran hutan, adalah salah satu upaya membantu masyarakat dunia dalam mengurangi pemanasan global.</p>
<p>Saya melihat, kegiatan ini sangat baik dan strategis sekali untuk penanganan kerusakan hutan dan lahan mengantisipasi kepunahan keanakeragaman hayati yang lebih parah,” terang Wawali Rizal. Lebih lanjut dia memaparkan, HLSW dan DAS manggar merupakan dua kawasan hutan yang sangat strategis bagi Kota Balikpapan.</p>
<p>Selain memiliki fungsi yang cukup penting bagi kehidupan kota sepert tata air, kedua kawasan ini juga memiliki fungsi perlindungan flora dan fauna. Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan harus ditangani bersama, sejak dari mulai adanya titik api harus sudah ditangani secara serius jangan sampai melebar.</p>
<p>“Saya berharap dengan adanya gedung ini upaya mengantisipasi dan mengendalikan bahaya kebakaran hutan dan lahan akan lebih baik. Dan masyarakat sekitar menjadi kunci utama dalam mengurangi bahaya kebarakan,” pesan Wawali Rizal. Usai seremoni peresmian, rombongan langsung melanjutkan acara dengan makan siang bersama di kantor BP HLSW dan DAS Manggar yang lokasinya bersebelahan dengan posko pananggulangan kebakaran.</p>
<p>Tak berlangsung lama, rombongan mengakhiri kegiatan dengan melakukan kunjungan ke kebun rambutan yang sedan panen. “Kalau hutan kita asri dan penuh dengan tumbuhan semacam ini kita juga yang menikmatinya. Hasilnya bisa dipetik, perubahan iklim juga bisa teratasi,” celetuk Dandim Rifky sembari memetik buah rambutan.(die)</p>
<p>Link: <a title="Posko Kabakaran Hutan Diresmikan, Antisipasi Kebakaran HLSW dan DAS Manggar" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=28208" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=28208</a><br />
Sumber: Metro Balikpapan<br />
Tanggal: Rabu, 30 Desember 2009 , 09:50:00</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HLSW Bangun Posko</title>
		<link>http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 06:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN &#8211; Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) mendirikan posko untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Posko tersebut berada di Kilometer 23 Balikpapan.
Direktur Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), Purwanto mengatakan pendirian posko itu dikarenakan jumlah kebakaran lahan cukup tinggi di tahun 2009. Menurutnya, kebakaran lahan ini terjadi karena selama ini penanganan hutan dan lahan belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN &#8211; Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) mendirikan posko untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Posko tersebut berada di Kilometer 23 Balikpapan.</p>
<p>Direktur Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), Purwanto mengatakan pendirian posko itu dikarenakan jumlah kebakaran lahan cukup tinggi di tahun 2009. Menurutnya, kebakaran lahan ini terjadi karena selama ini penanganan hutan dan lahan belum terfokus.</p>
<p>Pendirian posko untuk mengantisipasi dan penanggulan kebakaran Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Waduk Manggar serta lahan masyarakat. &#8220;Dalam tahun kurang lebih sekitar 20 kasus kebakaran lahan. Namun, ini di luar hutan lindungnya tapi berada di lahan masyarakat pertanian,&#8221; ujarnya belum lama ini.</p>
<p>Kebakaran lahan ini terjadi, lanjut Purwanto, karena masyarakat kerap membuka lahan dengan cara membakar. Namun tidak bisa mengendalikan sehingga menyebabkan kebakaran lahan.  &#8220;Kebakaran lahan itu terjadi karena masyarakat membuka lahan, selain itu ada kegiatan tambang batubara yang rentan menimbulkan kebakaran, meskipun di luar kawasan yakni Kabupaten Penajam Paser utara dan Kutai Kartanegara. Karena sungai wain itu berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga,&#8221; kata Purwanto.</p>
<p>Hingga kini, pengelola HLSW memiliki dua unit mobil pemadam kebakaran yang berukuran kecil. Selain itu, pihaknya menggunakan mesin pompa air jika melakukan pemadaman api di lahan tersebut. (fer)</p>
<p>Tanggal: Minggu, 20 Desember 2009 | 12:12 WITA<br />
Penulis:  Feri Mei Effendi -  Wartawan Tribun Kaltim,<br />
Link: <a title="HLSW Bangun Posko" href="http://www.tribunkaltim.co.id//read/artikel/44034" target="_blank">http://www.tribunkaltim.co.id//read/artikel/44034</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hutan Lindung Sungai Wain Sajikan Berbagai Jenis Hutan</title>
		<link>http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Inilah lokasi pelesir yang pas bagi yang suka berpetualang menyusuri hutan, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). Lokasinya pun mudah dijangkau, hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
AGUSTUS tahun lalu, HLSW menjadi bahan pembicaraan setelah hilangnya wisatawan asal Ceko Jindra Bromova. Perempuan berusia 48 tahun itu akhirnya ditemukan di kawasan mangrove empat hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em>Inilah lokasi pelesir yang pas bagi yang suka berpetualang menyusuri hutan, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). Lokasinya pun mudah dijangkau, hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.</p>
<p>AGUSTUS tahun lalu, HLSW menjadi bahan pembicaraan setelah hilangnya wisatawan asal Ceko Jindra Bromova. Perempuan berusia 48 tahun itu akhirnya ditemukan di kawasan mangrove empat hari kemudian. Dia tersesat setelah nekat berjalan sendirian menyusuri hutan tersebut tanpa didampingi staf HLSW.</p>
<p>Bisa jadi, Jindra terlena menikmati uniknya kawasan hutan tersebut sehingga tanpa sadar telah berjalan jauh dari base camp staf HLSW. Kawasan itu memang menyajikan berbagai jenis hutan, mulai rawa terbuka, hutan rawa air tawar, hutan sungai, hutan dipterocarpa dataran rendah yang lembap, hingga hutan dipterocarpa perbukitan kering yang memiliki spesies pohon dengan karakteristik berbeda di setiap tipe.</p>
<p>Secara umum, HLSW termasuk hutan hujan tropis. Luasnya sekitar 9.782 hektare. Karena jaraknya dekat dengan kota, menuju lokasi itu pun cukup cepat. Dari Bandara Internasional Sepinggan, hanya diperlukan sekitar 45 menit.</p>
<p>Namun, itu baru sampai di bagian luar kawasan hutan, tepatnya di Pos Ulin, tempat penjagaan utama HLSW. Untuk menikmati kekayaan hutan yang masih perawan tersebut, perlu berjalan kaki selama empat jam menuju ke bagian primer hutan. Jika beruntung, wisatawan yang menyusuri hutan itu bisa melihat hewan-hewan yang tinggal di dalamnya, seperti orangutan, owa, lutung dahi putih, dan beruang madu.</p>
<p>Sebaiknya, mulai penelusuran itu saat pagi untuk memperbesar peluang mendapatkan pengalaman langka melihat langsung binatang-binatang. &#8220;Dalam sebulan saya keluar masuk hutan, paling hanya lima kali melihat beruang madu,&#8221; ungkap Fitri, staf Litbang Unit Pelaksana Badan Pengelola HLSW yang menemani ke kamp Djamaludin.</p>
<p>Untuk menelusuri HLSW, titik awal terbaik adalah mulai dari waduk Sungai Wain. Air waduk itu sehari-hari dimanfaatkan untuk keperluan penghuni perumahan karyawan Pertamina.</p>
<p>Arus air sungai itu tidak deras dan cukup jernih. Rasanya juga masih tawar. Panjang sungai tersebut mencapai 18.300 meter. Di HLSW, selain DAS Sungai Wain, ada DAS Sungai Bugis. Air Sungai Bugis lebih jernih, kendati beberapa tahun lalu tercemar akibat kebakaran hutan.</p>
<p>Dari waduk tersebut, perjalanan berlanjut dengan melewati hutan rawa. Jalan masuknya adalah jembatan kayu ulin sepanjang 400 meter. Dilanjutkan perjalanan menyusuri hutan berbukit.</p>
<p>Begitu memasuki kawasan hutan, udara lembap namun segar langsung terasa. Cuaca agak gelap karena cahaya matahari terhalang rimbunnya pohon-pohon yang cukup tinggi. Orkestra alami pun langsung terdengar. Kicauan burung, suara gareng pung, dan jangkrik bersautan.</p>
<p>Vegetasi hutan itu didominasi kayu-kayuan, seperti bangkirai, kruing, ulin, dan meranti. Ada juga gaharu, pasak bumi, dan pohon bawang. Buah-buahannya berupa jambu-ambuan, durian, dan cempedak.</p>
<p>Jika menyusuri hutan tersebut saat musim hujan, disarankan mengenakan sepatu bot. Tujuannya menghindari pacet atau lintah yang menempel pada kaki dan menyedot darah. Selain itu, jalur hutan sering terhalang ranting pohon berduri. Jika tidak hati-hati dan konsentrasi, tangan atau bagian tubuh akan terluka.</p>
<p>Setelah berjalan satu jam, tibalah di kamp 1. Sinyal handphone menghilang. Kamp itu telah lama ditinggalkan dan jarang ditinggali para peneliti untuk mengambil data dari hutan. Sebagian juga telah rusak ditabrak orangutan atau babi. Namun, perjalanan masih panjang. Masih ada kamp 2 dan terakhir adalah kamp Djamaludin. (jpnn/ruk)</p>
<p>Tanggal:  Minggu, 22 November 2009<br />
Penulis: Thomas Priyandoko, Balikpapan<br />
Tautan: <a href="http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=101667" target="_blank">http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=101667</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
