<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hutan Lindung Sungai Wain &#187; species</title>
	<atom:link href="http://sungaiwain.org/tag/species/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sungaiwain.org</link>
	<description>hutan tropis di Kota Balikpapan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Jun 2010 04:59:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Beruang Madu Terancam Punah</title>
		<link>http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 05:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>
		<category><![CDATA[species]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN, TRIBUNKALTIM.co.id-  Peneliti asal Ceko, Stanislav Lhota, M.sc, Ph.D  memberi kabar mengejutkan bagi kota Balikpapan. Selama beberapa tahun penelitiannya di Hutan Lindung Sungai Wain dan Pesisir Teluk Balikpapan, dirinya memberi sinyal mengkhawatirkan bagi spesies yang terancam punah. Salah satunya adalah maskot kota Balikpapan adalah hewan Beruang Madu.
Dari data yang menjadi pegangan Stanis adalah IUCN Red [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN, TRIBUNKALTIM.co.id-  Peneliti asal Ceko, Stanislav Lhota, M.sc, Ph.D  memberi kabar mengejutkan bagi kota Balikpapan. Selama beberapa tahun penelitiannya di Hutan Lindung Sungai Wain dan Pesisir Teluk Balikpapan, dirinya memberi sinyal mengkhawatirkan bagi spesies yang terancam punah. Salah satunya adalah maskot kota Balikpapan adalah hewan Beruang Madu.</p>
<p>Dari data yang menjadi pegangan Stanis adalah IUCN Red List mencatat sebanyak 8 jenis mamalia yang ditemukan di Balikpapan terancam punah (Endangered) secara global, seperti Bekantan (<em>Nasalis larvatus</em>), Uwa-uwa Kalimantan (<em>Hylobates muelleri</em>), Orangutan Kalimantan (<em>Pongo pygmaeus</em>), Trenggiling (<em>Manis javanica</em>), Musang Air Bennet (<em>Cynogale bennettii</em>), Berang-berang Sumatera (<em>Lutra sumatrana</em>), Kucing Tandang (<em>Prionailurus planiceps</em>) dan Kucing Merah (<em>Pardofelis badia</em>). Selain itu, terdapat  17 spesies yang termasuk kategori rentan (Vulnerable). Seperti Beruang Madu (<em>Helarctos malayanus</em>), yang merupakan satwa maskot Balikpapan, dan juga Binturong (<em>Artictis binturong</em>), Macan Dahan (<em>Neofelis diardii</em>), Kucing Batu (<em>Pardofelis marmorata</em>), Pesut (<em>Orcaela brevirostris</em>) dan Duyung (<em>Dugong dugon</em>).</p>
<p>Stanis menganggap keanekaragaman mamalia dan binatang lain di Balikpapan berada di bawah ancaman yang serius. Salah satu ancaman ini adalah fragmentasi ekosistem. Setiap tahun hutan yang tersisa masih saja di jarah dan diisolasikan dari fragment-fragment hutan lain sehingga menyebabkan binatang tidak bisa bergerak di antara fragment-fragment itu yang dapat menambah risiko kepunahan lokal“ ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi tribunkaltim.co.id, Jumat (9/4).</p>
<p>Stanis menyebutkan satu spesies mamalia yang telah punah di Balikpapan adalah banteng (<em>Bos javanicus</em>) dan tidak menutup kemungkinan spesies yang lainnya bisa ikut punah. Tetapi pria asal Ceko ini masih bersyukur setelah melihat dua ekosistem utama yaitu hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir Teluk Balikpapan belum diisolasikan.</p>
<p>Masih ada biokoridor (jalan hijau) seluas 5.656 hektar di antara hutan lindung dan pesisir, melalui DAS (Daerah Aliran Sungai) Selok Puda, Sungai Tengah, Berenga, Tempadung, Baruangin dan Kemantis. „Tetapi koridor ini perlu dilindungi jika semua itu ingin diselamatkan dari ancaman kepunahan,“ tegasnya.</p>
<p>Stanis menilai anncaman utama untuk biokoridor (jalur hijau) ini adalah perencanaan membuat jalan penghubungan ke Jembatan Pulau Balang yang melewati perbatasan barat Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan. Jalan ini akan memotong semua koridor yang masih tersisa dan akan membuka akses untuk bermacam-macam aktivitas yang nantinya akan merusak hutan dan pesisir, termasuk illegal logging, kebakaran hutan dan pemburuan. „Ini akan sangat membahayakan reputasi Kalimantan Timur sebagai provinsi hijau (Green Province). Tetapi bencana ini bisa dihindari dengan cara pembuatan jembatan alternatif dari Tanjung Batu ke Gunung Seteleng, agar jalan penghubungnya tidak perlu dibangun melalui sepanjang perbatasan Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan,” katanya.</p>
<p>Dengan alternatif itu, keanekaragaman satwa kota Balikpapan yang di kenal unik di seluruh dunia menjadi bisa diselamatkan. Balikpapan menurutnya adalah kota yang sangat unik di dunia karena kekayaan jenis satwa dan tanamam liar yang masih terdapat di dalam wilayah administratifnya. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah spesies mamalia yang telah ditemukan oleh beberapa peneliti dari Indonesia dan dari negara luar. Sampai saat ini, sebanyak 94 spesies mamalia sudah terdaftar di Balikpapan. Tetapi sangat mungkin jumlah ini akan bertambah menjadi lebih dari 100 spesies setelah dilakukan penelitian lengkap tentang mamalia kecil seperti tikus, curut atau kelelawar. Namun, jumlah spesies mamalia kecil masih belum dapat di pastikan.</p>
<p>Terdapat 29 spesies mamalia yang ditemukan di Balikpapan dan dilindungi di Indonesia sesuai dengan PP No. 7 tahun 1999. Sebanyak 83 spesies dari 94 spesies mamalia yang diketahui di Balikpapan, kebanyakan ditemukan di Hutan Lindung Sungai Wain. “Namun sampai saat ini ada juga 11 spesies yang hanya dapat dilihat di luar area yang dilindungi seperti empat spesies mamalia laut yakni duyung, pesut, lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba tanpa sirip pungung,” ujarnya. (*)</p>
<p>Tanggal: Jumat, 9 April 2010 | 10:45 WITA<br />
URL: <a title="Beruang Madu Terancam Punah" href="http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/54059" target="_blank">http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/54059</a><br />
* Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Ahmad Bayasut</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/beruang-madu-terancam-punah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asli Amazon, Tumbuh Subur di Sungai Wain</title>
		<link>http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 06:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[species]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Rasa Buahnya Membuat Ketagihan, Dua Tahun Sudah Berbunga
RASA segar dan manis yang tak terlalu legit membuat orang yang mencecapnya, tak cepat puas. Jika digambarkan rasanya seperti krim lembut paduan susu dan karamel dengan aroma segar. Karena daging buahnya yang lembek. Itulah buah Abiu, yang biasa dimakan dengan dibelah melintang maupun membujur, lalu daging buahnya disendok.
Sesuap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Rasa Buahnya Membuat Ketagihan, Dua Tahun Sudah Berbunga</em></p>
<p>RASA segar dan manis yang tak terlalu legit membuat orang yang mencecapnya, tak cepat puas. Jika digambarkan rasanya seperti krim lembut paduan susu dan karamel dengan aroma segar. Karena daging buahnya yang lembek. Itulah buah Abiu, yang biasa dimakan dengan dibelah melintang maupun membujur, lalu daging buahnya disendok.</p>
<p>Sesuap demi sesuap, tak terasa 10 buah Abiu berbobot 300 gram bisa habis sekali makan. Daging putih lembut memang lebih lezat jika disajikan dingin. Buah yang berukuran rata-rata sebesar genggaman orang dewasa itu berkulit kuning mengkilap kala ranum. Aromanya harum menggoda hidung seolah mengisyaratkan kelezatannnya.</p>
<p>Abiu adalah tanaman yang berasal dari hutan Amazon yang dicoba dikembangkan di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) Km 15 Balikpapan Utara, berawal dari kebun Alan Carle di Queensland, Australia. Kolektor tanaman buah tropis itu memberikan sejumlah buah hasil panen kebunnya itu pada rekannya Jeoff Fowler yang juga kolektor tanaman.</p>
<p>Sama seperti pencicip buah lainnya, Jeoff Fowler terpikat dengan rasanya yang lezat. Sampai akhirnya saat datang ke Indonesia pada 2007 ia membawakan biji-biji Abiu untuk rekannya, Gregory Garnadi Hambali. Jeoff Fowler merekomendasikan buah keluarga Sapotaceae itu layak dikembangkan di Indonesia. Ada sekira sembilan tanaman Abiu di kebun Greg yang tumbuh dari biji-biji itu.</p>
<p>Pakar botani di Bogor itu tidak semata hanya menanam untuk koleksi di kebunnya sendiri, tapi juga menyebarkan ke rekan-rekannya. Dari situlah buah asli Amazon itu menyebar ke kebun hobiis atau kolektor tanaman buah tanah air.</p>
<p>Sebanyak lima puluh bibit yang didatangkan dari Eddy Susanto sebagai kolektor buah yang merupakan pemilik Tebuwulung Nursery di Cijantung Jakarta ini sudah sekira 1,8 tahun yang lalu hingga sekarang sudah sebagian pohon berbuah. Buah yang adaptif di iklim tropis dan subtropis itu tumbuh subur mulai dari dataran rendah seperti Jakarta sampai dataran tinggi.</p>
<p>Cepat berbuah adalah salah satu keistimewaan utama Abiu dibanding keluarga Sapotaceae lainnya. Umur dua tahun, tanaman asal biji mulai berbunga. Dua bulan kemudian, bunga menjadi buah berwarna hijau dan berangsur kuning cerah kala masak. Abiu berbuah rata-rata setelah dua tahun. Padahal sawo umumnya bisa lebih dari lima tahun bila berasal dari biji.</p>
<p>Tajuk Abiu mirip cemara sehingga bagus untuk tabulampot. ”Menurut saya, dari segi warna kulit Abiu lebih potensial dikembangkan karena warnanya sangat cerah dan menarik. Kulit kencang berwarna kuning mengkilap memang terlihat lebih cantik jika dibanding warna sawo lain yang biasanya berwarna cokelat, hijau atau ungu gelap,” kata Djonaziansjah salah satu pemilik Abiu.</p>
<p>Salah satu kelemahan Abiu adalah kadar getahnya agak tinggi, tapi itu tidak menjadi suatu masalah besar jika mengkonsumsinya Dua hari setelah petik. “Meski belum bisa dijumpai di pasar swalayan, saya yakin banyak orang akan senang merasakannya, bila berkunjung ke kebun di Sungai Wain Km 15, RT 036 (sebelum waduk Pertamina) Kota Balikpapan pengunjung bisa mencicipi Abiu,” jelasnya lagi.</p>
<p>Masih kata dia, rasanya sama seperti buah di Mekar Sari Bogor, Terbukti setiap matang buahnya, langsung habis diserbu di pohon sampai tak sempat dijajakan di toko buah.(ppl)</p>
<p>Tanggal: Minggu, 01 November 2009 , 14:52:00<br />
Tautan: <a href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=25368" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=25368</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
