<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hutan Lindung Sungai Wain</title>
	<atom:link href="http://sungaiwain.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sungaiwain.org</link>
	<description>hutan tropis di Kota Balikpapan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Feb 2010 01:04:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>BPHLSW Budidayakan Jamur Tiram</title>
		<link>http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 01:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[sosial-ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[BUDIDAYA jamur tiram mulai marak dilakukan masyarakat di Kota Balikpapan. Prospeknya yang baik dan juga mudah diserap pasar, membuat warga tertarik dengan usaha ini. Budidaya jamur tiram pun juga dilakukan Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain dan Das Manggar, yang masih dalam tahap ujicoba.
Budidaya dilakukan bukan untuk tujuan bisnis, namun nantinya ditularkan kepada masyarakat sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BUDIDAYA jamur tiram mulai marak dilakukan masyarakat di Kota Balikpapan. Prospeknya yang baik dan juga mudah diserap pasar, membuat warga tertarik dengan usaha ini. Budidaya jamur tiram pun juga dilakukan Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain dan Das Manggar, yang masih dalam tahap ujicoba.</p>
<p>Budidaya dilakukan bukan untuk tujuan bisnis, namun nantinya ditularkan kepada masyarakat sekitar hutan, agar mampu melakukan budidaya dengan baik, dan tak tergantung pada hutan khususnya kayu. “Baru lima bulan kami membudidayakan jamur ini, setelah berhasil maka selanjutnya masyarakat sekitar yang akan membudidayakannya.</p>
<p>Nilai ekonomi dari budidaya jamur ini sangat menjanjikan,” ujar Direktur BPHLS dan Das Manggar Purwanto SHut didampingi Koordinator Litbang Rusdianto kepada Post Metro belum lama ini. Dikatakan, untuk wadah pengembangbiakan jamur adalah dari kantong plastik yang disisi dedak, kayu dan kapur.</p>
<p>Setelah itu diproses dan ditaburi spora jamur yang bibitnya diambil dari Balikpapan. “Kami tekankan, pembudidayaan jamur ini agar masyarakat tidak lagi tergantung pada Hutan Lindung Sungai Wain. Sehingga kondisi hutan pun dapat terus lestari,” terang Purwanto.(mm-2)</p>
<p>Tanggal: Minggu, 14 Februari 2010 , 10:11:00<br />
URL: <a title="BPHLSW Budidayakan Jamur Tiram" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=30851" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=30851</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/bphlsw-budidayakan-jamur-tiram.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ironis, Kawasan HLSW Tersisa 63 Persen, Akibat Penjarahan Warga dan Pihak Tertentu</title>
		<link>http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN &#8211; Perkembangan di kawasan hutan lindung sungai wain (HLSW), hingga kini masih kondisinya belum dapat dikatakan baik. Penjarahan dalam skala kecil, masih dilakukan terhadap HLSW. Luas area HLSW yang mencapai 10 ribu hektarre, perlahan tapi pasti terus berkurang, karena adanya penjarahan hutan yang dilakukan warga dan pihak-pihak tertentu.
Ini yang mengakibatkan kondisi HLSW yang masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BALIKPAPAN</strong> &#8211; Perkembangan di kawasan hutan lindung sungai wain (HLSW), hingga kini masih kondisinya belum dapat dikatakan baik. Penjarahan dalam skala kecil, masih dilakukan terhadap HLSW. Luas area HLSW yang mencapai 10 ribu hektarre, perlahan tapi pasti terus berkurang, karena adanya penjarahan hutan yang dilakukan warga dan pihak-pihak tertentu.</p>
<p>Ini yang mengakibatkan kondisi HLSW yang masih bisa dikatakan sebagai hutan tersisa sekira 9 ribu hektare saja. “Kondisi hutan yang masih baik, tinggal 63 persen. Ini karena ada masyarakat yang terus-menerus mencari kayu, walau persentasenya kecil,” kata Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Kalimantan Drs Widodo W Sambodo MS.</p>
<p>Kawat yang mengelilingi HLSW sebagai pembatas, agar kondisi HLSW dapat terus dilestarikan, tidak dapat menghentikan aktivitas penjarahan yang dilakukan warga sekitar. Kurangnya pemahaman warga sekitar akan pentingnya melestarikan HLSW serta masih diandalkannya kayu sebagai bahan pokok untuk melakukan aktivitas masak-memasak yang dilakukan warga sekitar HLSW, jadi penyebab terjarahnya sebagian wilayah HLSW.</p>
<p>“Warga masih pakai kayu untuk masak, kawat pembatasnya sampai dibobol sama warga,” ungkapnya. Upaya yang dilakukan untuk tetap menjaga kelestarian HLSW adalah dengan melakukan pendekatan ke warga sekitar, serta memberikan pemahaman agar warga mengerti akan pentingnya keberadaan HLSW.</p>
<p>Selain itu, perbaikan terhadap kawat pembatas HLSW perlu untuk segera dilakukan agar tidak ada lagi warga yang masuk untuk menjarah HLSW. “Warga perlu diberikan pemahaman agar tidak lagi melakukan penjarahan. Jika warga sudah paham, sebaiknya kawat pembatasnya dipasang lagi, supaya warga tidak masuk lagi.</p>
<p>Kalau masih dibiarkan terbuka, sama aja member kesempatan warga untuk menjarah lagi,” terang dia. Jika sosialisasi terhadap warga telah dilakukan, tahap selanjutnya adalah memperketat pengawasan terhadap HLSW, agar penjarahan tidak lagi terulang.</p>
<p>Setelah memastikan tidak ada lagi yang melakukan penjarahan, sangatlah perlu untuk memperbaiki sebagian area HLSW yang rusak akibat penjarahan yang dilakukan warga sekitar. “Lahan yang rusak, harus ditanami kembali, untuk mengembalikan kelestarian HLSW,” pungkas Widodo.</p>
<p><strong>PERNAH TERBAKAR<br />
</strong><br />
Sebelumnya, seperti pernah dilansir Metro, saat musim kemarau akhir September 2009 lalu, kebakaran sempat melanda kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Lindung Sungai Manggar (HLSM) Balikpapan. Sedikitnya sekira 15 hektar lahan di kawasan tersebut, dilahap api.</p>
<p>Tingkat bahaya kebakaran hutan dan Lahan khususnya disekitar HLSW dan HLSM saat ini sudah pada tingkat Indeks Bahaya Kebakaran Tinggi dan tim Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan BPHLSW telah menetapkan status siaga II Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan.</p>
<p>Menurut Direktur Badan Pangelola HLSW dan Das Manggar, Purwanto Sejak bulan Juli hingga Bulan September 2009, jumlah titik api yang sudah di tangani BPHLSW sebanyak 12 titik api dengan luas rata-rata 2 Ha, dan terakhir kebakaran hutan dan lahan di KM.18 mencapai 15 Ha Lebih.</p>
<p>“Hal ini disebabkan oleh kegiatan masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar kemudian ditinggal, masyarakat yang membakar sampah dan kegiatan– kegiatan lain yang membuka peluang kebakaran hutan seperti membuang putung rokok sembarangaa. Tetapi sampai saat ini kondisi HLSW masih aman dari bahaya kebakaran,” terang Purwanto.(mm-1)<br />
Tanggal: Kamis, 14 Januari 2010 , 08:19:00<br />
Link: <a title="Ironis, Kawasan HLSW Tersisa 63 Persen, Akibat Penjarahan Warga dan Pihak Tertentu" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=29073" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=29073</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/ironis-kawasan-hlsw-tersisa-63-persen-akibat-penjarahan-warga-dan-pihak-tertentu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>40 Petugas Pemadam Awasi 14.000 Ha Lahan</title>
		<link>http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 06:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN &#8211; Kantor Penanggulangan Kebakaran senilai Rp 980 juta di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Lindung DAS Manggar diresmikan Wakil Walikota Balikpapan Rizal Effendi, Selasa (29/12). Peresmian kantor yang terletak di kawasan Agrowisata Km 23, Karang Joang ini ditandai pembukaan selubung papan nama oleh Rizal.
Kepala Divisi Perlindungan Hutan dan Konservasi Kawasan Unit Pengelola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN &#8211; Kantor Penanggulangan Kebakaran senilai Rp 980 juta di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Lindung DAS Manggar diresmikan Wakil Walikota Balikpapan Rizal Effendi, Selasa (29/12). Peresmian kantor yang terletak di kawasan Agrowisata Km 23, Karang Joang ini ditandai pembukaan selubung papan nama oleh Rizal.</p>
<p>Kepala Divisi Perlindungan Hutan dan Konservasi Kawasan Unit Pengelola HLSW Agusdin  mengatakan, bangunan yang didanai Pemprov Kaltim ini akan menjadi pusat kendali penanggulangan kebakaran yang mengawasi lahan seluas 14.781 hektare (ha), meliputi 9.782 ha HLSW dan 4.999 ha HL DAS Manggar. &#8220;Gedung ini sekaligus menggantikan posko pengendali yang sebelumnya berada di Km 15,&#8221; ujar Agus.</p>
<p>Saat ini, sudah ada 20 personel petugas pemadam dan 20 anggota regu binaan swakarsa masyarakat sekitar, artinya 40 personel mengawasi sekitar 14.000 hektare lebih lahan hutan lindung. Selain itu, masih ada sembilan personel Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polri dan TNI yang siap membantu. &#8220;Dalam keadaan darurat, kita akan mendapat bantuan dari regu pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran serta bantuan regu pemadam perusahaan-perusahaan swasta,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Kantor Penanggulangan Kebakaran HLSW dan HL DAS didukung empat unit mobil pick up, 1 unit mobil pemadam kapasitas tangki 5.000 liter, tandon portable, pompa punggung, cangkul, sekop, hingga chainsaw.</p>
<p>Kepala UP HLSW Purwanto mengatakan, penjagaan dan pengawasan kawasan hutan lindung tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga masyarakat sekitar kawasan. &#8220;Kunci utama adalah komunikasi dan kerja sama antara masyarakat dan petugas dalam menghadapi kebakaran hutan,&#8221; ujar Purwanto.</p>
<p>Dalam acara ini juga ditampilkan demonstrasi pemadaman api oleh tim pemadam Unit Pelaksana BPHLSW disaksikan para tamu undangan yang hadir. Usai atraksi, Wawali, Dandim, dan Kapolres turut mencoba pompa semprot berkapasitas 18 liter air. (m25)</p>
<p>Link: <a title="40 Petugas Pemadam Awasi 14.000 Ha Lahan" href="http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/44801" target="_blank">http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/44801</a><br />
Sumber: Tribun Kaltim<br />
Tanggal: Selasa, 29 Desember 2009 | 22:11 WITA</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/40-petugas-pemadam-awasi-14-000-ha-lahan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Posko Kabakaran Hutan Diresmikan, Antisipasi Kebakaran HLSW dan DAS Manggar</title>
		<link>http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 06:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN&#8211;Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (BP HLSW) dan DAS Manggar, akhirnya merampungkan gedung yang dijadikan posko penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Posko yang berada di kawasan Agrowisata Jl Soekarno-Hatta Km 23, diresmikan langsung Wakil Wali Kota HM Rizal Effendi SE, Selasa (29/12) pagi.
Turut menyaksikan peresmian gedung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tersebut, Kapolresta Balikpapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN&#8211;Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (BP HLSW) dan DAS Manggar, akhirnya merampungkan gedung yang dijadikan posko penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Posko yang berada di kawasan Agrowisata Jl Soekarno-Hatta Km 23, diresmikan langsung Wakil Wali Kota HM Rizal Effendi SE, Selasa (29/12) pagi.</p>
<p>Turut menyaksikan peresmian gedung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tersebut, Kapolresta Balikpapan AKBP A Rafik, Dandim 0905 Balikpapan Letkol Inf Rifky, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkot Drs H Syahrumsyah Setya MSi, Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DTKP) H Chaidar Chairulsyah, Direktur BP HLSW dan DAS Manggar Purwanto dan beberapa tamu undangan lainnya.</p>
<p>Peresmian ditandai dengan pembukaan kain yang menyelubungi papan nama gedung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan HSLW maupun DAS Manggar, oleh Wawali Rizal Effendi. Usai peresmian, juga dilakukan simulasi pemadaman kebakaran oleh pejabat muspida mapun petugas, yang lokasi tepat berada di depan gedung.</p>
<p>“Di posko ini ada lima unit kendaraan penanggulangan bencana kebakaran, empat diantaranya berupa kendaraan pikap. Sedangkan satunya lagi berupa mobil pemadam kapasitas 5.000 liter air,” ujar Direktur BP HLSW dan DAS Manggar, Purwanto. Sementara itu, Wawali Rizal menuturkan bahwa di Balikpapan setiap tahunnya selalu menghadapi bencana kebakaran yang datang secara rutin rutin .</p>
<p>Diantaranya bencana angin puting beliung, banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan, lahan dan rumah. Ketika semua bencana itu sudah ada dan sudah terdeteksi, maka seharusnya masyarakat dan petugas sudah bisa mengatasi dan mengendalikannya dengan membuat suatu sistem penanggulangan yang terpadu seperti yang diresmikan saat ini. “Sistem penanggulangan kebakaran hutan harus lebih terencana dengan baik.</p>
<p>Dan saya menyambut baik terhadap upaya yang dilakukan oleh BP HLSW dan DAS Manggar yang telah menerencanakan sejak lama melalui pembangunan pusat penangulangan kebakaran hutan dan lahan ini,” ungkap Rizal. Namun, kata wawali, terkadang masyarakat lalai dan belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan bencana.</p>
<p>Apabila bencana tersebut dapat kita kendalikan dan waspadai, maka segala bentuk kerugian dan bahaya juga dapat ditanggulangi. Penanggulangan bencana alam saat ini tidak hanya terjadi di Kota Balikpapan, hampir seluruh dunia juga merasakan akibat dari perubahan iklim atau climate change.</p>
<p>Salah satu penyumbang pemanasan global adalah meningkatnya jumlah kadar karbon gas rumah kaca, terutama yang berasal dari pembukaan hutan dan membakar lahan serta kebakaran hutan sendiri. “Oleh sebab itu, penanganan asap akibat kebakaran hutan, adalah salah satu upaya membantu masyarakat dunia dalam mengurangi pemanasan global.</p>
<p>Saya melihat, kegiatan ini sangat baik dan strategis sekali untuk penanganan kerusakan hutan dan lahan mengantisipasi kepunahan keanakeragaman hayati yang lebih parah,” terang Wawali Rizal. Lebih lanjut dia memaparkan, HLSW dan DAS manggar merupakan dua kawasan hutan yang sangat strategis bagi Kota Balikpapan.</p>
<p>Selain memiliki fungsi yang cukup penting bagi kehidupan kota sepert tata air, kedua kawasan ini juga memiliki fungsi perlindungan flora dan fauna. Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan harus ditangani bersama, sejak dari mulai adanya titik api harus sudah ditangani secara serius jangan sampai melebar.</p>
<p>“Saya berharap dengan adanya gedung ini upaya mengantisipasi dan mengendalikan bahaya kebakaran hutan dan lahan akan lebih baik. Dan masyarakat sekitar menjadi kunci utama dalam mengurangi bahaya kebarakan,” pesan Wawali Rizal. Usai seremoni peresmian, rombongan langsung melanjutkan acara dengan makan siang bersama di kantor BP HLSW dan DAS Manggar yang lokasinya bersebelahan dengan posko pananggulangan kebakaran.</p>
<p>Tak berlangsung lama, rombongan mengakhiri kegiatan dengan melakukan kunjungan ke kebun rambutan yang sedan panen. “Kalau hutan kita asri dan penuh dengan tumbuhan semacam ini kita juga yang menikmatinya. Hasilnya bisa dipetik, perubahan iklim juga bisa teratasi,” celetuk Dandim Rifky sembari memetik buah rambutan.(die)</p>
<p>Link: <a title="Posko Kabakaran Hutan Diresmikan, Antisipasi Kebakaran HLSW dan DAS Manggar" href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=28208" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=28208</a><br />
Sumber: Metro Balikpapan<br />
Tanggal: Rabu, 30 Desember 2009 , 09:50:00</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/posko-kabakaran-hutan-diresmikan-antisipasi-kebakaran-hlsw-dan-das-manggar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HLSW Bangun Posko</title>
		<link>http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 06:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[BALIKPAPAN &#8211; Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) mendirikan posko untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Posko tersebut berada di Kilometer 23 Balikpapan.
Direktur Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), Purwanto mengatakan pendirian posko itu dikarenakan jumlah kebakaran lahan cukup tinggi di tahun 2009. Menurutnya, kebakaran lahan ini terjadi karena selama ini penanganan hutan dan lahan belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BALIKPAPAN &#8211; Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) mendirikan posko untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Posko tersebut berada di Kilometer 23 Balikpapan.</p>
<p>Direktur Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), Purwanto mengatakan pendirian posko itu dikarenakan jumlah kebakaran lahan cukup tinggi di tahun 2009. Menurutnya, kebakaran lahan ini terjadi karena selama ini penanganan hutan dan lahan belum terfokus.</p>
<p>Pendirian posko untuk mengantisipasi dan penanggulan kebakaran Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Waduk Manggar serta lahan masyarakat. &#8220;Dalam tahun kurang lebih sekitar 20 kasus kebakaran lahan. Namun, ini di luar hutan lindungnya tapi berada di lahan masyarakat pertanian,&#8221; ujarnya belum lama ini.</p>
<p>Kebakaran lahan ini terjadi, lanjut Purwanto, karena masyarakat kerap membuka lahan dengan cara membakar. Namun tidak bisa mengendalikan sehingga menyebabkan kebakaran lahan.  &#8220;Kebakaran lahan itu terjadi karena masyarakat membuka lahan, selain itu ada kegiatan tambang batubara yang rentan menimbulkan kebakaran, meskipun di luar kawasan yakni Kabupaten Penajam Paser utara dan Kutai Kartanegara. Karena sungai wain itu berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga,&#8221; kata Purwanto.</p>
<p>Hingga kini, pengelola HLSW memiliki dua unit mobil pemadam kebakaran yang berukuran kecil. Selain itu, pihaknya menggunakan mesin pompa air jika melakukan pemadaman api di lahan tersebut. (fer)</p>
<p>Tanggal: Minggu, 20 Desember 2009 | 12:12 WITA<br />
Penulis:  Feri Mei Effendi -  Wartawan Tribun Kaltim,<br />
Link: <a title="HLSW Bangun Posko" href="http://www.tribunkaltim.co.id//read/artikel/44034" target="_blank">http://www.tribunkaltim.co.id//read/artikel/44034</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/hlsw-bangun-posko.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peresmian Gedung Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan</title>
		<link>http://sungaiwain.org/peresmian-gedung-pklh.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/peresmian-gedung-pklh.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 15:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 29 Desember 2009, direncanakan akan dilakukan peresmian  penggunaan Gedung Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di KWPLH KM.23 (Agrowisata) oleh Walikota Balikpapan. Dengan bertambahnya  fasilitas pengelolaan HLSW dan DAS Manggar ini akan meningkatkan pelrindungan dan pengamanan HLSW dan DAS Manggar, khususnya bahaya kebakaran hutan dan lahan.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 29 Desember 2009, direncanakan akan dilakukan peresmian  penggunaan Gedung Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di KWPLH KM.23 (Agrowisata) oleh Walikota Balikpapan. Dengan bertambahnya  fasilitas pengelolaan HLSW dan DAS Manggar ini akan meningkatkan pelrindungan dan pengamanan HLSW dan DAS Manggar, khususnya bahaya kebakaran hutan dan lahan.</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/peresmian-gedung-pklh.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/peresmian-gedung-pklh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hutan Lindung Sungai Wain Sajikan Berbagai Jenis Hutan</title>
		<link>http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Inilah lokasi pelesir yang pas bagi yang suka berpetualang menyusuri hutan, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). Lokasinya pun mudah dijangkau, hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
AGUSTUS tahun lalu, HLSW menjadi bahan pembicaraan setelah hilangnya wisatawan asal Ceko Jindra Bromova. Perempuan berusia 48 tahun itu akhirnya ditemukan di kawasan mangrove empat hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em>Inilah lokasi pelesir yang pas bagi yang suka berpetualang menyusuri hutan, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). Lokasinya pun mudah dijangkau, hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.</p>
<p>AGUSTUS tahun lalu, HLSW menjadi bahan pembicaraan setelah hilangnya wisatawan asal Ceko Jindra Bromova. Perempuan berusia 48 tahun itu akhirnya ditemukan di kawasan mangrove empat hari kemudian. Dia tersesat setelah nekat berjalan sendirian menyusuri hutan tersebut tanpa didampingi staf HLSW.</p>
<p>Bisa jadi, Jindra terlena menikmati uniknya kawasan hutan tersebut sehingga tanpa sadar telah berjalan jauh dari base camp staf HLSW. Kawasan itu memang menyajikan berbagai jenis hutan, mulai rawa terbuka, hutan rawa air tawar, hutan sungai, hutan dipterocarpa dataran rendah yang lembap, hingga hutan dipterocarpa perbukitan kering yang memiliki spesies pohon dengan karakteristik berbeda di setiap tipe.</p>
<p>Secara umum, HLSW termasuk hutan hujan tropis. Luasnya sekitar 9.782 hektare. Karena jaraknya dekat dengan kota, menuju lokasi itu pun cukup cepat. Dari Bandara Internasional Sepinggan, hanya diperlukan sekitar 45 menit.</p>
<p>Namun, itu baru sampai di bagian luar kawasan hutan, tepatnya di Pos Ulin, tempat penjagaan utama HLSW. Untuk menikmati kekayaan hutan yang masih perawan tersebut, perlu berjalan kaki selama empat jam menuju ke bagian primer hutan. Jika beruntung, wisatawan yang menyusuri hutan itu bisa melihat hewan-hewan yang tinggal di dalamnya, seperti orangutan, owa, lutung dahi putih, dan beruang madu.</p>
<p>Sebaiknya, mulai penelusuran itu saat pagi untuk memperbesar peluang mendapatkan pengalaman langka melihat langsung binatang-binatang. &#8220;Dalam sebulan saya keluar masuk hutan, paling hanya lima kali melihat beruang madu,&#8221; ungkap Fitri, staf Litbang Unit Pelaksana Badan Pengelola HLSW yang menemani ke kamp Djamaludin.</p>
<p>Untuk menelusuri HLSW, titik awal terbaik adalah mulai dari waduk Sungai Wain. Air waduk itu sehari-hari dimanfaatkan untuk keperluan penghuni perumahan karyawan Pertamina.</p>
<p>Arus air sungai itu tidak deras dan cukup jernih. Rasanya juga masih tawar. Panjang sungai tersebut mencapai 18.300 meter. Di HLSW, selain DAS Sungai Wain, ada DAS Sungai Bugis. Air Sungai Bugis lebih jernih, kendati beberapa tahun lalu tercemar akibat kebakaran hutan.</p>
<p>Dari waduk tersebut, perjalanan berlanjut dengan melewati hutan rawa. Jalan masuknya adalah jembatan kayu ulin sepanjang 400 meter. Dilanjutkan perjalanan menyusuri hutan berbukit.</p>
<p>Begitu memasuki kawasan hutan, udara lembap namun segar langsung terasa. Cuaca agak gelap karena cahaya matahari terhalang rimbunnya pohon-pohon yang cukup tinggi. Orkestra alami pun langsung terdengar. Kicauan burung, suara gareng pung, dan jangkrik bersautan.</p>
<p>Vegetasi hutan itu didominasi kayu-kayuan, seperti bangkirai, kruing, ulin, dan meranti. Ada juga gaharu, pasak bumi, dan pohon bawang. Buah-buahannya berupa jambu-ambuan, durian, dan cempedak.</p>
<p>Jika menyusuri hutan tersebut saat musim hujan, disarankan mengenakan sepatu bot. Tujuannya menghindari pacet atau lintah yang menempel pada kaki dan menyedot darah. Selain itu, jalur hutan sering terhalang ranting pohon berduri. Jika tidak hati-hati dan konsentrasi, tangan atau bagian tubuh akan terluka.</p>
<p>Setelah berjalan satu jam, tibalah di kamp 1. Sinyal handphone menghilang. Kamp itu telah lama ditinggalkan dan jarang ditinggali para peneliti untuk mengambil data dari hutan. Sebagian juga telah rusak ditabrak orangutan atau babi. Namun, perjalanan masih panjang. Masih ada kamp 2 dan terakhir adalah kamp Djamaludin. (jpnn/ruk)</p>
<p>Tanggal:  Minggu, 22 November 2009<br />
Penulis: Thomas Priyandoko, Balikpapan<br />
Tautan: <a href="http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=101667" target="_blank">http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=101667</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/hlsw-sajikan-berbagai-jenis-hutan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asli Amazon, Tumbuh Subur di Sungai Wain</title>
		<link>http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 06:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[species]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Rasa Buahnya Membuat Ketagihan, Dua Tahun Sudah Berbunga
RASA segar dan manis yang tak terlalu legit membuat orang yang mencecapnya, tak cepat puas. Jika digambarkan rasanya seperti krim lembut paduan susu dan karamel dengan aroma segar. Karena daging buahnya yang lembek. Itulah buah Abiu, yang biasa dimakan dengan dibelah melintang maupun membujur, lalu daging buahnya disendok.
Sesuap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Rasa Buahnya Membuat Ketagihan, Dua Tahun Sudah Berbunga</em></p>
<p>RASA segar dan manis yang tak terlalu legit membuat orang yang mencecapnya, tak cepat puas. Jika digambarkan rasanya seperti krim lembut paduan susu dan karamel dengan aroma segar. Karena daging buahnya yang lembek. Itulah buah Abiu, yang biasa dimakan dengan dibelah melintang maupun membujur, lalu daging buahnya disendok.</p>
<p>Sesuap demi sesuap, tak terasa 10 buah Abiu berbobot 300 gram bisa habis sekali makan. Daging putih lembut memang lebih lezat jika disajikan dingin. Buah yang berukuran rata-rata sebesar genggaman orang dewasa itu berkulit kuning mengkilap kala ranum. Aromanya harum menggoda hidung seolah mengisyaratkan kelezatannnya.</p>
<p>Abiu adalah tanaman yang berasal dari hutan Amazon yang dicoba dikembangkan di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) Km 15 Balikpapan Utara, berawal dari kebun Alan Carle di Queensland, Australia. Kolektor tanaman buah tropis itu memberikan sejumlah buah hasil panen kebunnya itu pada rekannya Jeoff Fowler yang juga kolektor tanaman.</p>
<p>Sama seperti pencicip buah lainnya, Jeoff Fowler terpikat dengan rasanya yang lezat. Sampai akhirnya saat datang ke Indonesia pada 2007 ia membawakan biji-biji Abiu untuk rekannya, Gregory Garnadi Hambali. Jeoff Fowler merekomendasikan buah keluarga Sapotaceae itu layak dikembangkan di Indonesia. Ada sekira sembilan tanaman Abiu di kebun Greg yang tumbuh dari biji-biji itu.</p>
<p>Pakar botani di Bogor itu tidak semata hanya menanam untuk koleksi di kebunnya sendiri, tapi juga menyebarkan ke rekan-rekannya. Dari situlah buah asli Amazon itu menyebar ke kebun hobiis atau kolektor tanaman buah tanah air.</p>
<p>Sebanyak lima puluh bibit yang didatangkan dari Eddy Susanto sebagai kolektor buah yang merupakan pemilik Tebuwulung Nursery di Cijantung Jakarta ini sudah sekira 1,8 tahun yang lalu hingga sekarang sudah sebagian pohon berbuah. Buah yang adaptif di iklim tropis dan subtropis itu tumbuh subur mulai dari dataran rendah seperti Jakarta sampai dataran tinggi.</p>
<p>Cepat berbuah adalah salah satu keistimewaan utama Abiu dibanding keluarga Sapotaceae lainnya. Umur dua tahun, tanaman asal biji mulai berbunga. Dua bulan kemudian, bunga menjadi buah berwarna hijau dan berangsur kuning cerah kala masak. Abiu berbuah rata-rata setelah dua tahun. Padahal sawo umumnya bisa lebih dari lima tahun bila berasal dari biji.</p>
<p>Tajuk Abiu mirip cemara sehingga bagus untuk tabulampot. ”Menurut saya, dari segi warna kulit Abiu lebih potensial dikembangkan karena warnanya sangat cerah dan menarik. Kulit kencang berwarna kuning mengkilap memang terlihat lebih cantik jika dibanding warna sawo lain yang biasanya berwarna cokelat, hijau atau ungu gelap,” kata Djonaziansjah salah satu pemilik Abiu.</p>
<p>Salah satu kelemahan Abiu adalah kadar getahnya agak tinggi, tapi itu tidak menjadi suatu masalah besar jika mengkonsumsinya Dua hari setelah petik. “Meski belum bisa dijumpai di pasar swalayan, saya yakin banyak orang akan senang merasakannya, bila berkunjung ke kebun di Sungai Wain Km 15, RT 036 (sebelum waduk Pertamina) Kota Balikpapan pengunjung bisa mencicipi Abiu,” jelasnya lagi.</p>
<p>Masih kata dia, rasanya sama seperti buah di Mekar Sari Bogor, Terbukti setiap matang buahnya, langsung habis diserbu di pohon sampai tak sempat dijajakan di toko buah.(ppl)</p>
<p>Tanggal: Minggu, 01 November 2009 , 14:52:00<br />
Tautan: <a href="http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=25368" target="_blank">http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&amp;id=25368</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/asli-amazon-tumbuh-subur-di-sungai-wain.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hutan Lindung Sungai Wain Terus Diintai</title>
		<link>http://sungaiwain.org/hutan-lindung-sungai-wain-terus-diintai.html</link>
		<comments>http://sungaiwain.org/hutan-lindung-sungai-wain-terus-diintai.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 16:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sungaiwain</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungaiwain.org/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Tantangan tepian Wain, Kalimantan Timur, sungguh kompleks, tutupan hijau tidak henti-henti diusik berbagai kepentingan untuk memanfaatkan kekayaan kayu dan batu baranya.
HUTAN Lindung Sungai Wain (HLSW) merupakan hutan dataran rendah yang berada di Kilometer 15, Kelurahan Karang Joang, sebelah utara Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Sejak 1934, Sultan Kerajaan Kutai menetapkannya sebagai hutan tutupan. Setelah berselang 49 tahun, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tantangan tepian Wain, Kalimantan Timur, sungguh kompleks, tutupan hijau tidak henti-henti diusik berbagai kepentingan untuk memanfaatkan kekayaan kayu dan batu baranya.</p>
<p>HUTAN Lindung Sungai Wain (HLSW) merupakan hutan dataran rendah yang berada di Kilometer 15, Kelurahan Karang Joang, sebelah utara Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.</p>
<p>Sejak 1934, Sultan Kerajaan Kutai menetapkannya sebagai hutan tutupan. Setelah berselang 49 tahun, areal hutan seluas 3.925 hektare di Sungai Wain dikategorikan kawasan lindung oleh Menteri Pertanian.</p>
<p>Total luas hutan lindung mencapai 10.025 hektare sebab pada 1988 Menteri Kehutanan menunjuk area lain seluas 6.100 hektare sebagai hutan lindung.</p>
<p>Toh, status itu &#8216;kurang ampuh&#8217; untuk membebaskan kawasan lindung ini dari rongrongan eksploitasi. HLSW menyimpan potensi kayu bernilai ekonomis tinggi, di antaranya kayu bangkirai (<em>Shorea laevis</em>), ulin (<em>Eusideroxylon zwageri</em>), dan gaharu (<em>Aquilaria malaccensis</em>). Hutan ini juga rumah bagi satwa khas seperti beruang madu, macan dahan, bekantan, rusa kuning, harimau tutul, burung merak, dan babi berjanggut. Selain itu, HSLW mengandung batu bara yang layak ditambang. Batu bara itulah yang menjadi biang persoalannya.</p>
<p>Sebelum Badan Pengelola HLSW pada 2002 dibentuk pemerintah Kota Balikpapan, kasus pembalakan liar mencapai 10 hingga 15 titik sepanjang 2000 hingga 2001. Angka itu belum termasuk kasus pembalakan liar yang terjadi sepanjang 1990-an.</p>
<p>Direktur Badan Pengelola HLSW Purwanto beberapa pekan lalu menyampaikan, meski segala bentuk pembalakan mulai ditekan, ancaman tetap ada.</p>
<p>Padahal, kawasan HLSW ibarat nafas bagi penduduk Balikpapan. Tutupan hijaunya punya fungsi penting, yakni sebagai tangkapan air dari sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang membelah Balikpapan, Penajam, dan Kutai Kartanegara. Purwanto menambahkan, &#8220;Perusahaan seperti Pertamina sangat tergantung pada keberlangsungan HLSW sebab mereka sudah memanfaatkan air untuk kebutuhan minum karyawan sejak 1970-an.&#8221;</p>
<p>Untuk membabat aktivitas para pembalak liar, salah satu yang sedang digalakkan di sekitar kawasan ini ialah pembukaan hutan rakyat di lahan kritis. Purwanto mengatakan setiap kepala keluarga diberikan lahan seluas 2 hektare untuk dikelola dan ditanami karet atau tanaman industri lainnya.</p>
<p>Selain itu, personel keamanan yang merupakan gabungan dari TNI/Polri dan 30 petugas keamanan turut dikerahkan. Walau jumlahnya masih sangat sedikit untuk menjangkau seluruh wilayah seluas puluhan ribu hektare.</p>
<p>Pengamanan dilakukan dengan membentuk pos pengamanan di 10 titik dalam kawasan, kemudian aparat keamanan menyusuri setiap pos selama satu minggu.</p>
<p><strong>Ancaman batu bara</strong></p>
<p>Selain ancaman pembalakan liar, yang tidak kalah pentingnya adalah ancaman penambangan batu bara di sekitar HLSW khususnya yang berada di perbatasan Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara. Sebab, kedua kabupaten tersebut telah memberikan perizinan penambangan batu bara yang dapat menghancurkan kelestarian HLSW akibat kerusakan lingkungan yang berasal dari aktivitas tambang.</p>
<p>Menurut Kepala Badan Pengendalian dan Dampak Lingkungan (Bappedalda) Kota Balikpapan Syahrumsah Setia, pemerintah Kota Balikpapan terus berkoordinasi dengan kedua kabupaten untuk tidak mengeluarkan izin di sekitar HLSW. Sebab dipastikan akan merusak ekosistem yang ada di dalam kawasan hutan.<br />
Kendati demikian, usaha itu terlambat. Pasalnya, kedua kabupaten sudah memberikan beberapa izin melalui kuasa pertambangan (KP) kepada sejumlah perusahaan.</p>
<p>&#8220;Cukup ironis, kami ingin melestarikan HLSW, tapi dukungan dari kedua kabupaten belum optimal. Ini terlihat dari pemberian izin tambang kepada perusahaan pertambangan. Karena apabila sudah ditambang, keberadaan HLSW lambat laun akan terkikis dan habitat yang ada di dalamnya juga akan mati,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Syahrumsah menyayangkan aksi sejumlah kabupaten yang ingin menaikkan PAD daerah, dengan mengorbankan kawasan hutan dan segala isinya. (N-4)</p>
<p>Tanggal: Jumat, 02 Januari 2009 00:01 WIB<br />
Penulis: Syahrul Karim -  syahrul[at]mediainonesia.com<br />
Tautan: <a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2009/01/01/53811/99/15/Hutan-Lindung-Sungai-Wain-Terus-Diintai-" target="blank">http://www.mediaindonesia.com/read/2009/01/01/53811/99/15/Hutan-Lindung-Sungai-Wain-Terus-Diintai-</a></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://sungaiwain.org/hutan-lindung-sungai-wain-terus-diintai.html" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungaiwain.org/hutan-lindung-sungai-wain-terus-diintai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
