Asli Amazon, Tumbuh Subur di Sungai Wain
Rasa Buahnya Membuat Ketagihan, Dua Tahun Sudah Berbunga
RASA segar dan manis yang tak terlalu legit membuat orang yang mencecapnya, tak cepat puas. Jika digambarkan rasanya seperti krim lembut paduan susu dan karamel dengan aroma segar. Karena daging buahnya yang lembek. Itulah buah Abiu, yang biasa dimakan dengan dibelah melintang maupun membujur, lalu daging buahnya disendok.
Sesuap demi sesuap, tak terasa 10 buah Abiu berbobot 300 gram bisa habis sekali makan. Daging putih lembut memang lebih lezat jika disajikan dingin. Buah yang berukuran rata-rata sebesar genggaman orang dewasa itu berkulit kuning mengkilap kala ranum. Aromanya harum menggoda hidung seolah mengisyaratkan kelezatannnya.
Abiu adalah tanaman yang berasal dari hutan Amazon yang dicoba dikembangkan di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) Km 15 Balikpapan Utara, berawal dari kebun Alan Carle di Queensland, Australia. Kolektor tanaman buah tropis itu memberikan sejumlah buah hasil panen kebunnya itu pada rekannya Jeoff Fowler yang juga kolektor tanaman.
Sama seperti pencicip buah lainnya, Jeoff Fowler terpikat dengan rasanya yang lezat. Sampai akhirnya saat datang ke Indonesia pada 2007 ia membawakan biji-biji Abiu untuk rekannya, Gregory Garnadi Hambali. Jeoff Fowler merekomendasikan buah keluarga Sapotaceae itu layak dikembangkan di Indonesia. Ada sekira sembilan tanaman Abiu di kebun Greg yang tumbuh dari biji-biji itu.
Pakar botani di Bogor itu tidak semata hanya menanam untuk koleksi di kebunnya sendiri, tapi juga menyebarkan ke rekan-rekannya. Dari situlah buah asli Amazon itu menyebar ke kebun hobiis atau kolektor tanaman buah tanah air.
Sebanyak lima puluh bibit yang didatangkan dari Eddy Susanto sebagai kolektor buah yang merupakan pemilik Tebuwulung Nursery di Cijantung Jakarta ini sudah sekira 1,8 tahun yang lalu hingga sekarang sudah sebagian pohon berbuah. Buah yang adaptif di iklim tropis dan subtropis itu tumbuh subur mulai dari dataran rendah seperti Jakarta sampai dataran tinggi.
Cepat berbuah adalah salah satu keistimewaan utama Abiu dibanding keluarga Sapotaceae lainnya. Umur dua tahun, tanaman asal biji mulai berbunga. Dua bulan kemudian, bunga menjadi buah berwarna hijau dan berangsur kuning cerah kala masak. Abiu berbuah rata-rata setelah dua tahun. Padahal sawo umumnya bisa lebih dari lima tahun bila berasal dari biji.
Tajuk Abiu mirip cemara sehingga bagus untuk tabulampot. ”Menurut saya, dari segi warna kulit Abiu lebih potensial dikembangkan karena warnanya sangat cerah dan menarik. Kulit kencang berwarna kuning mengkilap memang terlihat lebih cantik jika dibanding warna sawo lain yang biasanya berwarna cokelat, hijau atau ungu gelap,” kata Djonaziansjah salah satu pemilik Abiu.
Salah satu kelemahan Abiu adalah kadar getahnya agak tinggi, tapi itu tidak menjadi suatu masalah besar jika mengkonsumsinya Dua hari setelah petik. “Meski belum bisa dijumpai di pasar swalayan, saya yakin banyak orang akan senang merasakannya, bila berkunjung ke kebun di Sungai Wain Km 15, RT 036 (sebelum waduk Pertamina) Kota Balikpapan pengunjung bisa mencicipi Abiu,” jelasnya lagi.
Masih kata dia, rasanya sama seperti buah di Mekar Sari Bogor, Terbukti setiap matang buahnya, langsung habis diserbu di pohon sampai tak sempat dijajakan di toko buah.(ppl)
Tanggal: Minggu, 01 November 2009 , 14:52:00
Tautan: http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=25368





Leave a Reply